RUBRIKASI.COM/ Jakarta. - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah menjadi sorotan utama di lantai bursa seiring rentetan aksi korporasi radikal yang melambungkan harga sahamnya secara fantastis. Emiten Grup Bakrie ini baru saja membukukan lonjakan laba bersih tahun 2025 yang meroket hingga 50,7% menjadi Rp493,85 miliar.
Menariknya, di balik lonjakan laba setengah triliun ini, pendapatan operasional perseroan sebenarnya turun tipis menjadi Rp3,74 triliun. Usut punya usut, durian runtuh ini berasal dari "laba buku" alias keuntungan akuntansi senilai Rp422,37 miliar yang diwajibkan usai BNBR mengambil alih 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada akhir 2025. Terkait sentimen ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai penguatan harga saham BNBR memang sangat didorong oleh langkah aksi korporasi akuisisi tol tersebut, di Jakarta, 28/04/2026.
Momentum pembukuan yang impresif ini nyatanya hanya batu loncatan bagi BNBR untuk mengeksekusi rencana yang jauh lebih masif. Perseroan tengah mematangkan aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue jumbo dengan menerbitkan 86,7 miliar saham baru Seri E di harga Rp12 per saham. Dengan rasio 2:1, mayoritas dana segar ini akan disedot untuk melunasi utang triliunan rupiah kepada sejumlah kreditur.
"Langkah bersih-bersih neraca ini diproyeksikan bakal memangkas Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER) perseroan secara dramatis, anjlok dari level mengerikan 536,02% menjadi jauh lebih sehat di 211,57%. Menanggapi aksi ini, Direktur Utama BNBR, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan optimismenya. "Penambahan modal dapat meningkatkan kemampuan perseroan untuk melakukan ekspansi usaha, yang pada akhirnya berdampak positif pada laba perseroan dan diharapkan meningkatkan imbal hasil bagi seluruh pemegang saham," jelas Anindya.
Dengan struktur modal yang mulai tertata, BNBR bersiap membidik durian runtuh sesungguhnya dengan banting setir berekspansi ke sektor teknologi yang sedang meledak: Data Center. Lewat entitas afiliasinya, PT Multi Kontrol Nusantara (MKN), perseroan telah mengunci kesepakatan pembelian lahan seluas 1,67 hektare di Kalideres, Jakarta Barat senilai Rp500 miliar.
"Manajemen dalam laporan keuangannya secara gamblang mengonfirmasi langkah ini. “Entitas anak mengadakan perjanjian jual beli tanah dengan PAU yang terletak di Kalideres, Jakarta Barat seluas 1,67 hektar, dengan tujuan untuk membangun data center inner city,” tulis manajemen. Menariknya, ekspansi agresif ini dibekali jaring pengaman yang sangat menguntungkan; BNBR memegang klausul khusus di mana uang muka (DP) sebesar Rp152,4 miliar wajib dikembalikan jika proyek batal. “PAU wajib mengembalikan dana uang muka sebesar Rp152,4 miliar secara penuh kepada MKN tanpa ada potongan,” tegas manajemen dalam laporan tersebut.
Deretan katalis fundamental, mulai dari akuisisi tol, perbaikan postur utang, hingga sentimen hype data center, langsung memantik respons liar di pasar saham. Belum lama ini, saham BNBR meledak +12,62% ke level Rp232 per saham, mengakumulasi lonjakan gila-gilaan lebih dari 400% hanya dalam enam bulan terakhir.
"Mengutip analisis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, pergerakan agresif ini telah berhasil menembus level breakout penting di Rp214, mengonfirmasi pola bullish continuation yang membuat area tersebut kini beralih fungsi menjadi batas support pijakan yang kuat. Meski tren utamanya terus menunjukkan sinyal penguatan, para trader tetap disarankan untuk memperketat manajemen risiko mengingat saham ini memiliki volatilitas yang sangat ekstrem dengan koefisien Beta mencapai 3,23.
@Son/Rubrikasi.com/rksi/04/2026.
